Bertingkat Dalam Belajar Islam

Pembaca yang dirahmati Allah, sudah kita kenali bersama atas pentingnya “tafaqquh fid diin“ (belajar agama). lebih-lebih lagi di era kini sedikit yang belajar islam


belajar islam

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallama wa baaraka ‘alaa nabiyyina muhammadin wa aalihi wa ashabihi ajma’in. Pembaca yang dirahmati Allah, sudah kita kenali bersama atas pentingnya “tafaqquh fid diin“ (belajar agama). lebih-lebih lagi di era kini, ilmu agama kian sedikit orang yang mempelajarinya (belajar islam), sehingga yang melimpah ialah banyak orang bodoh akan tetapi mengaku pintar. ilmulah yang bakal menjaga kita dari angin besar fitnah yang selalu melanda.

Tidak diragukan lagi kalau menuntut ilmu syar’i adalah amal yang amat agung, terlebih ganjaran untuk orang yang menuntut menuntut ilmu serupa halnya atas orang yang pergi berjihad di jalur allah hingga dia balik. akan tetapi aktivitas yang mulia ini, bila tidak diiringi atas cara belajar yang betul, bakal jadi tidak teratur serta acak-acakan, bersama hasil yang diterima juga tidak bakal maksimum. sehingga dari itu amat esensial untuk tiap penuntut ilmu demi mengacuhkan bagaimanakah aturan belajar yang sebaiknya dijalani.

Ilmu diterima dengan cara bertingkat

Dalam menuntut ilmu amat diperlukan kesabaran. seorang yang tidak sabar dalam menuntut ilmu, kerapkali berdampak pada kejenuhan lalu lalu akibatnya kandas di tengah jalan. antusiasnya begitu bergairah di awal, tapi sehabis itu pudar tanpa jejak. apa permasalahannya? di antara permasalahannya ialah cara menuntut ilmu yang tidak tepat, pembelajaran yang tidak bertingkat, lalu tidak mengutamakan penguatan ajaran pokok. sebaiknya, seorang mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai atas tingkatan kemampuannya, tetap aja disertai atas antusias bertempur yang tinggi. seorang yang menuntut ilmu bagaikan memanjat satu buah tangga. demi dapat mencapai bagian teratas dari tangga itu, sehingga dirinya mesti memanjat dari dasar terlebih dulu. bila dia memaksakan demi langsung menuju teratas, sehingga niscaya dirinya tidak bakal bisa ataupun akhirnya dirinya bakal celaka.

Ketahuilah, bila seorang bergegas dalam menuntut ilmu, niscaya dirinya malah akan kehilangan seluruhnya, karna ilmu diterima bersamaan dengan berjalannya siang dan malam, setingkat demi setingkat dengan penuh kesabaran, enggak sekali dua kali duduk di manjelis ataupun sekali dua kali baca. oleh karna itu para ulama kerap mengatakan:

(من لم يطقن ألأصول, حرم الوصول)

“barangsiapa yang tidak memiliki materi-materi ushul ( dasar/pokok ), dirinya tidak bakal mencapai hasil”

Para ulamapun
kerap mengingatkan:

(من رام العلم جملة, ذهب عنه جملة)

“barangsiapa yang mendalami ilmu langsung sekaligus dalam kuantitas yang banyak, akanbanyakjuga ilmu yang hilang” [dinukil dari hilyatu tholibil ‘ilmi, syaikh bakr bin abdillah abu zaid hafidzahullah]

Mulailah dari yang palingpokok

Saudaraku, durasi yang kitapunyaamatlahterbatas. kitamesti pandai-pandai memakaidurasi yang dipunyai, termasuk dalam menuntut ilmu, dalam mendalami ilmu, seorangmestimemilikipokok yang kokoh sebagaibekal baginya demimemahami ilmu syariat yang lainnya. contohlah aturanrasulkita dalam mengajari umatnya, beliaumengawali dari masalahpokok yang palingpokok, ialah ilmu tauhid. rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salambersabda:

إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب

“Sesungguhnya kamuakanmendatangisesuatukaum dari ahlikitab, sehingga ajaklah mereka padapersaksiankalautidakada tuhan (yang berhak disembah) selain allah –dalam riwayat lain: pada tauhidullah-. bila mereka mentaatimu untukperkaraitu, maka beritahukanlah pada mereka kalau allah sudahmewajibkanpada mereka shalat lima waktu pada tiap siang dan malam. bila mereka mentaatimu demiperkaraitumaka beritahukanlah pada mereka kalau allah sudahmewajibkanpada mereka sedekah yang diambil dari orangkaya mereka kemudian dibagikan padabanyak orangmiskin di antara mereka. bila mereka mentaatimu demiperkaraitusehinggakamu jauhilah hartamulia mereka. takutlah andakepadadoaorang yang terzhalimi, karnatidakterdapat penghalang antara dirinyadan allah” (h. r bukhari 1395 danmuslim 19)

Dalam hadist ini ada pelajaran atas tingkatan dalam berdakwah dan mendalami ilmu, ialah mengawali dari yang paling pokok setelah itu dilanjutkan masalah pokok yang di bawahnya.

Hal yang paling pokok dan mendesak dipelajari ketika ini ialah ilmu tauhid, karna tauhidlah asal usul kebahagiaan dunia dan akherat. selain itu, kenalilah tandingan dari tauhid ialah syirik dengan perinciannya. pun imu atas aqidah yang mencukup keenam rukun iman. begitu juga perkara-perkara ibadah wajib ataupun sunnah yang teratur dikerjakan siang dan malam, bersama perkara-perkara yang berkaitan dengan muamalah.

Belajar dengan panduan ustadz

Seorang bisa aja belajar ilmu syar’i cuma dari buku yang ia baca semata. cara ini mempunyai beberapa sisi minus, di antaranya ialah memerlukan waktu yang lama, ilmunya lemah, dan terkadang kita jumpai seorang yang seperti ini banyak terjatuh dalam kekeliruan karna lemahnya pemahaman ataupun karna buku yang dibacanya menyimpang dan menyesatkan. oleh karna itu, seorang harus belajar dengan panduan ustadz. dengan adanya ustadz, maka dialah yang akan memandu dan memperbaiki bila ada kekeliruan dan waktu yang diperlukan untuk belajar jadi lebih singkat. belajar langsung dengan ustadz, memliki beberapa faedah:

1.  Menempuh jalan yang lebih singkat

2. Lebih cepat dan lebih banyak dalam mengetahui suatu

3. Terangkai ikatan batin antara penuntut ilmu dengan ulama. [diringkas dari kitaabul ‘ilmi, syaikh ibnu ‘utsaimin rahimahullah]

Perlunya belajar dengan cara ta’shili

Sebagai seseorang penuntut ilmu sebaiknya menyiapkan dirinya untuk memberi dedikasi pada masyarakatnya dengan ilmu, amal dan dakwah. melindungi masyarakat dengan aqidah yang benar dan manhaj yang lurus adalah kewajiban para penuntut ilmu di tengah-tengah amukan badai fitnah yang berkecamuk. oleh karna itu, harus dicanangkan rencana yang mantap dan bentuk belajar yang akurat untuk membentuk para penuntut ilmu yang handal.

Kesimpulannya, kita mesti belajar dengan cara yang benar, dengan cara ta’shil, belajar dengan cara bertingkat dan berkelanjutan dimulai dari materi-materi ushul (pokok ), ialah bertingkat dimulai dari babak awal setelah itu meningkat ke tahapan yang lebih tinggi dan berikutnya yang mesti dipelajari dengan cara ta’shil ialah materi-materi pokok ataupun dasar yang akan jadi dasar ataupun injakan seseorang penuntut ilmu untuk menumbuhkan daya keilmuan yang dipunyai dirinya. dan selayaknya diusahakan supaya segala pelajaran dalam aspek ilmu/kitab yang berhubungan diperoleh dari uraian langsung dari ustadz yang ahli.

Semoga deskripsi singkat ini bermanfaat. kita berharap biar Allah ta’ala senantiasa memandu kita di berdasarkan jalan ilmu yang benar.

wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa muhammad.

penulis: Adika Mianoki

tulisan www.muslim.or.id

asal usul: https://muslim.or.id/7053-bertahap-dalam-belajar-islam.html

What's Your Reaction?

Masyallah
0
Masyallah
Astaghfirullah
0
Astaghfirullah
Subhanallah
0
Subhanallah
Innalillahi
0
Innalillahi
Syukran
0
Syukran

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF